Jumat, 17 April 2009

Ngeseks Dengan Tante Bahenol

Para pembaca yang budiman, pengalaman ini adalah kelanjutan dari kisahku sebelumnya yang berjudul ‘Perkenalanku dengan Ambar’. Seperti yang sudah aku ceritakan pada kisah tersebut, bahwa Ambar tinggal di pinggiran kota Surabaya dengan kakak perempuannya yang juga sudah mempunyai 2 orang anak. Dan di rumah itu juga masih ada saudara yang lain dari suami Tante Joyce.

Pengalaman sex ku bersama Ambar sebelumnya, membuat aku semakin PD dengan kemampuanku untuk bercinta. Karena setiap aku bercinta dengan seseorang, pasanganku selalu mengalami fantasi sex yang sebelumnya belum pernah mereka dapatkan.

Setelah kejadian malam itu di ruang tamu rumah Ambar, aku merasa peristiwa tersebut memang suatu keberuntungan bagiku karena kejadian tersebut, begitu saja tanpa ada rencana sebelumnya. Bercinta di ruang tamu dengan penerangan yang amat terang, sehingga aku tahu persis setiap centi lekuk tubuh Ambar yang memang masih ketat dan sexy, walaupun sudah punya satu anak.

Jam tanganku menunjukkan pukul 5.30 pagi, karena memang aku berjanji menjemput Ambar untuk sama-sama berangkat ke kantor. Aku sengaja berangkat pagi karena tidak ingin terbebelenggu oleh kemacetan kota metropolis sebesar Surabaya. Kebetulan lokasi kantor Ambar tidak jauh dari lokasi tempat kerjaku, di daerah Basuki Rahmat yang terkenal dengan pusat perkantoran.

Tanpa terasa mobil starletku W 1xx sudah berada tepat di depan rumah Ambar, aku segera bergegas membuka pagar dan masuk ke terasnya.

“Tok.. Tok.. Tok” tanganku mengetuk daun pintu rumah Ambar.

Sesaat kemudian keluarlah seorang wanita setengah baya yang tinggi semampai dengan rambut terurai sepunggung, aroma parfumnya sangat menyengat hidungku. Tinggi semampai dengan ditambah paras wajah yang cukup cantik, membuat wanita setengah baya tersebut kelihatan lebih fresh.

“Cari siapa dik..?” tanya wanita tersebut.
“Mmm.. Anu Tante Ambarnya ada?” tanyaku balik.
“Ada silahkan masuk,” kata wanita itu sambil membuka lebar pintunya.

Aku segera mengikuti wanita tersbut masuk didalam ruang tamunya, mataku yang mulai nakal menikmati pinggul wanita itu yang berjalan membelakangiku. Pantatnya yang masih kencang tidak menampakkan jika kakak perempuan Ambar sudah beranak 2.

Aku kembali mengingat kejadian saat bercinta dengan Ambar diruang tamu yang sekarang aku duduki. Memang luar biasa sekali kejadian saat itu, sepertinya ruang tamu di rumah Ambar ini menjadi saksi bisu permainan sex ku bersama Ambar.

Selang beberapa waktu, aku dikejutkan dengan wanita yang tadi menerimaku.

“Dik, si Ambar masih mandi tuh” kata wanita tersebut.
“Tidak apa-apa.. Mbak..” kataku terputus karena memang belum tahu namnya.
“Panggil aja Joyce,” wanita itu mengenalkan diri.
“Bb.. Baik Tante Joyce, aku tunggu aja deh,” jawabku gugup.
“Kamu Dandy kan?” tanya Tante Joyce.
“Iya Tante, tapi kok Tante tahu nama saya?” tanyaku balik.
“Tahu dong, Tante tahu semua kok,” kata Tante Joyce sambil tersenyum.
“Maksud Tante..?” tanyaku agak nervous.
“Tante tahu kok saat kamu anterin pulang Ambar dan..” wanita itu terdiam.
“Dan apa Tante?” tanyaku penasaran.
“Dan hebatnya permainan sex kamu saat bercinta dengan adikku”

Ups! dadaku terasa meledak dan detak jantungku berpacu dengan cepat, aku terasa malu. Tubuhku langsung merasa lemas karena saat itu aku yakin sekali tidak ada seorang pun dirumah, karena memang Ambar sudah bilang tidak ada siapa-siapa. Aku terdiam dan tertunduk malu tidak berani menatap wajah Tante Joyce, dan aku semakin salah tingkah karena tertangkap basah saat bercinta!!

Jam ditanganku terasa lama sekali, padahal aku berharap jam itu berputar secepatnya hingga aku segera meninggalkan ruangan ini.

“Dandy, kenapa kok kamu jadi murung begitu?” tanya Tante Joyce.
“Mm.. Anu.. Nggaak.. Ada.. Apa-apa.. Kok” kataku terbatah-batah.
“Maaf Tante Joyce, atas kejadian malam itu” pintaku meminta maaf.
“Tidak apa-apa kok Dandy, Tante tidak marah kok,” kata Tante Joyce.
“Terima kasih Tante..” kataku singkat.
“Cuman.. Tante punya syarat,” kata Tante Joyce.
“Apa itu Tante..?” tanyaku penasaran.

Tante Joyce tidak menjawab dan langsung berdiri dari tempat duduknya, sesaat kemudian wanita tersebut sudah menarik pergelangan tanganku. Aku digandeng masuk ke dalam ruangan dapur, saat itu detak jantungku berpacu dengan cepat dan memikirkan apa yang akan diperbuat wanita tersebut. Saat aku masih belum tahu apa yang akan dilakukan Tante Joyce, wanita itu langsung membalikkan badannya. Sehingga wajahku hanya berjarak beberapa centi saja dengan wajah Tante Joyce.

“Tante tidak akan mempermasalahkan kejadian malam itu, asal kamu juga mau memberikan apa yang sudah kamu berikan sama adikku” katanya.
“Maksud Tttaann.. tee..?” kataku gugup.

Tante langsung menyambar bibirku dengan penuh gairah, sesaat aku baru sadar bahwa apa yang diharapkan wanita setengah baya itu adalah BERCINTA! Aku berusaha melepaskan ciuman Tante Joyce.

“Tante.. Nanti ada anak-anak..” kataku menghindar.
“Anak-anak lagi berlibur dirumah neneknya” jelas Tante Joyce.
“Nanti ada Ambar Tante..” kataku berusaha bertahan.
“Jangan khawatir, itu urusan Tante..” kata Tante Joyce.

Belum selesai perkataan tersebut, Tante Joyce kembali menyambar bibirku yang kata kaum hawa sangat sensual.

“Hmm..” suara Tante Joyce melumat bibirku.

Kedua tangan Tante Joyce sudah melingkar di pinggulku, sehingga bongkahan daging kembar didadanya terasa menekan bidang dadaku. Tante Joyce semakin merapatkan pelukannya sehingga aku menerka, wanita tersebut tidak menggunakan bra dibalik dasternya.

Lidah Tante Joyce semakin bernafsu mencari-cari lidahku, hingga aku sempat tersengal saat lidahku dihisap dalam-dalam. Sesekali telapak tangannya dengan jari-jari nya yang lentik, meremas kedua bongkahan daging pantatku. Dan jujur saja hal itu menimbulkan rangsangan yang luar biasa, syaraf kelaki-lakianku sepontan melonjak di ubun-ubun. Aku semakin terbawa aliran nafsu yang sudah dialirkan oleh Tante Joyce, tanganku bergerak begitu lincahnya seakan mempunyai sepasang mata yang bisa melihat bagian-bagian sensasional yang perlu di remas.

Sesekali tanganku mulai mengelus permukaan buah dada Tante Joyce dari luar dasternya, aku rasakan betul bahwa wanita ini benar-benar sudah terangsang hebat. Terbukti saat jariku memilin-milin puntingnya, begitu keras dan kencang berdiri. Tanganku berpindah-pindah dari buah dada, pinggil dan pnatat Tante Joyce sesekali aku remas seolah tidak terima dengan remasan jarinya dipantatku sebelumnya. LIdah dan bibir Tante Joyce menari-nari diseluruh permukaan aku, semakin panas dan menjadi saat jariku mulai menarik ke atas daster yang dikenakan kakak Ambar tersebut.

Jariku dengan lihai meremas dan mengelus permukaan pantat Tante Joyce, sesekali aku menyisipkan jari telunjukku di tengah bongkahan pantatnya.

“Aakhh.. Danndy..” rintih Tante Joyce saat jari telunjukku, aku mainkan pada lubang anal wanita tersbut.
“Ohh.. Danddyy.. Tante nggak tahan..” kata Tante Joyce merintih.

Sambil berkata demikian, wanita tersebut menekan pundakku supaya jongkok menghadap selangkangannya. Aku tahu persis dengan apa yang diharapakan Tante Joyce, lidahku mulai menjilati lutut wanita itu yang masih dalam posisi berdiri. Jilatanku semakin menjadi dan menuju ke pangkal paha Tante Joyce, tanganku tidak ada hentinya meremas, pantat Tante Joyce yang masih kencang.

Tidak terlalu sulit untuk menyingkap daster yang dikenakan Tante Joyce karena wanita tersebut membantu mengangkat bagian depan dasternya. Sehingga nampak jelas ‘hutan lebat’ yang tumbuh di tengah selangkangan wanita tersebut bagian tengahnya sudah basah dengan lendir yang keluar dari lubang kewanitaanya saat kamu bercumbu sebelumya. Ternyata dari tadi Tante Joyce sudah tidak mengenakan bra maupun CD dan sepertinya wanita ini sudah merencanakan hal ini terjadi.

“Akkhh.. Aaowww..” rintihnya ketika lidahku mulai mendarat dipermukaan bibir vaginanya. LIdahku menari-nari bagaikan tarian tanggo argentina dipermukaan bibir vaginya.
“Okkhh.. Teruss.. Danddyy.. Hisaapp saayaanngg,” rintih Tante Joyce.

Rintihan Tante Joyce membuat aku semakin berani memerankan lidahku dalam menjelajahi lubang vaginanya. Wanita itu membuka lebar-lebar kakinya, sehingga memudahkan aku untuk mengocok, menghisap, dan menjilat vaginanya yang mulai basah dibanjiri lendir kenikmatan dari lubang vaginanya.

Aku melihat, jelas Tante Joyce menggunakan kedua tangannya untuk meremas, mengusap dan menekan buah dadanya. Sesekali jarinya yang lentik, memainkan puntingnya yang semakin kencang. Saat wanita itu sibuk dengan aktivitas tangannya, aku mencoba memberikan sentuhan lain dalam bercinta. Aku merubah posisiku yang awalnya jongkok di depan selangkangan Tante Joyce, aku segera merangkak diantara kedua kakinya yang seang terbuka lebar. Sehingga sekarang aku berjongkok di belakang pantat Tante Joyce.

“Aauughh.. Sss..” rintih Tante Joyce ketika lidahku mulai mendarat dipermukaan pantatnya. Aku segera menyibak kedua bongkahan pantat, dan nampak jelas lubang analnya yang begitu bersih.
“Akkhh.. gillaa.. Kaamuu Danndyy,” rintih wainta itu kembali.

Lidahku langsung menjilati lubang anal Tante Joyce, dan seperti yang sudah aku dapatkan tentang pengetahuan dari buku-buku maupun film BF yang aku tonton. Ternyata lubang anal juga merupakan bagian yang paling sensitif bagi kaum hawa, dan itu terbukti dengan menggeliatnya tubuh Tante Joyce ketika lidahku manari-nari dilubang analnya.

“Dannddy.. Sss..” desahnya Tante Joyce.

Jari telunjukku berputar-putar sesaat di permukaan clitorisnya dan beberapa saat kemudian, jari tengahku mulai bergerak keluar masuk dilubang vagina Tante Joyce.

“Ohh.. Tteruuss.. Tanttee.. mau dappet..” katanya liar.

Sesaat kemudian aku kembali merubah posisiku semula, kedua tangan Tante Joyce menahan tubuhnya di permukaan kulkas. Sedangkan kedua kakinya terbuka lebar, sehingga dengan mudah lidahku menari-nari di ujung clitorisnya. Semakin kencang desahan Tante Joyce semakin lair pula lidahku menjilati clitorisnya. Jari telunjukku, yang sebelumnya terbenam pada lubang vagina Tante joyce, sekarang berbalik terbenam dilubang anal Tante Joyce.

Tubuh Tante Joyce semakin bergerak tidak beraturan, naik-turun, maju-mundur, mengikuti aktivitas ganasnya lidahku.

“Danddyy.. Tanttee.. Keellu.. arr aagghh” rintih Tante Joyce panjang.

Bersamaan dengan rintihan panjang, kedua pahanya terasa menggapit kepalaku sehingga aku tidak mendengar desahan panjangnya. Dan disaat itu pula aku rasakan lelehan lendir yang begitu banyak dari lubang kewanitaan Tante Joyce. Aku tidak menghentikan aktivitasku, bahkan aku berusaha membuat Tante Joyce, kakak Ambar bisa menikmati jilatan lidahku untuk membersihkan lendir yang baru saja dikeluarkan.

Disaat aku sedang asyik menikmati vagina Tante Joyce yang masih basah, tiba-tiba aku dikejutkan dengan tangan Tante Joyce yang mengangkat pundakku.

Sesaat kemudian dengan segala kemahirannya, Tante Joyce mengeluarkan penisku dari celanaku. Bagaikan di sebuah film BF yang pernah aku lihat, dengan pakaian kerja kantor lengkap dengan dasi yang aku kenakan, Tante Joyce hanya mengeluarkan penisku dari resleting celanaku saja.

“Hmm.. Kamu memang jantan Dandy..” puji Tante Joyce sambil mengelus penisku.

Bersamaan dengan hal itu, aku merasakan gesekan tangannya yang halus dipermukaan batang penisku. Sehingga hal itu menimbulkan rangsangan yang luas biasa. Sedetik kemudian, aku hanya bisa merem melek menikmati kuluman bibir Tante Joyce. Seluruh batang kemaluanku seperti ditelan habis dalam mulut Tante Joyce, sesekali lidahnya yang nakal menjilati ‘kepala’ penisku.

“Akhh.. Tantee.. Hisap terus.. Sss” rintihku dalam.

Bagikan melayang aku dibuat Tante Joyce, wanita setengah baya ini memang mempunyai keahlian dalam oral sex. Terbukti semua hisiapan, kuluman, jilatan pada batang kemaluanku, nyaris tidak menyentuh giginya sama sekali. Aku sangat menikmati sekali perlakuan Tante Joyce pada batang kemaluanku, sehingga sentuhan lidahnya yang bertubi-tubi mendarat di batang kemaluanku semakin lama semakin menimbulkan rangsangan yang luar biasa.

Tiba-tiba Tante Joyce berdiri dari jongkoknya dan berkata..

“Dandy.. Tante sudah nggak tahan ingin penismu” katanya lirih.

Sambil berkata demikian Tante membalikkan tubuhnya dan bersandar dipinggir meja makan.

“Ooo.. Mmyy GOD” mata Tante mendelik dan bibirnya mendesah hebat saat penisku yang kekar mulai menembus vaginanya yang mulai dibasahi dengan cairan disekitar vaginanya.
“Danddy.. Ookkh.. Jangan.. Permainkan akuu.. Uughh” rintih Tante Joyce.

Aku sengaja mengendalikan permainan dengan jalan hanya menggerakkan keluar masuk kepala penisku, sehingga Tante Joyce meronta penasaran.

“Saayangg.. Masukkan semuuaa.. Aakuu peenggen..” rintihnya kembali.
Seketika itu aku langsung menancapkan seluruh batang kemaluanku sampai menthok dalam vaginanya.
“Oookkhh..” untuk kesekian kalinya tant Joyce merintih.

Aku menggerakkan pinggulku berputar-putar tanpa menggerakkan keluar masuk penisku dalam lubang vaginanmya. Kedua tanganku mengunci pinggul Tante Joyce, sehingga wanita tersebut hanya bisa merem melek, mendesah, merintih kenikmatan.

“Akkh.. Danddyy.. Nikmaatt sekali.. Sss..” desahnya.

Dengan perlahan dan penuh perasaan, aku merubah gerakan penisku dalam vaginanya. Bagaikan goyangan patah-patah Anisa Bahar, aku menggerakan batang penisku dan ternyata gerakkan itu membuat Tante Joyce menggerinjang hebat. Maklum penisku memang berukuran diatas rata-rata 17-18 cm dengan diamter 3,5 cm, itupun masih ditambah bentuknya yang melelengkung.

“Danndyy.. Terruss.. Teruss.. Saayang.. Jangaan.. Berhenti.. Oohhkk” celoteh Tante Joyce.

Disela rintihan Tante Joyce, terbesit keinginan nakalku untuk merangsang lubang anal Tante Joyce. Dengan bantuan beberapa cairan yang sudah membasahi pahanya, aku mengoleskan cairan tersebut disekitar lubang anal Tante Joyce.

Seakan tenggelam dalam kenikmatan penisku yang mengoyak, menghujam dan menerobos dinding vaginanya, Tante Joyce tidak merasakan jika ibu jariku juga sudah mulai mengoyak lubang analnya.

“Slleepp..” suara ibu jariku menyelinap di lubang anal Tante Joyce.

Lengkaplah sudah permainan sex ku dengan Tante Joyce, kedua lubang miliknya sudah terkoyak oleh penis dan ibu jariku. Beberapa saat kemudian, aku menggerakkan frontal penisku untuk mengoyak lubang vagina Tante Joyce karena aku melihat indikasi wanita tersebut akan mendapatkan orgasmenya yang kedua. Begitu banyaknya cairan yang meleleh keluar dari lubang vaginanya. Gerakan penis dan ibu jariku, bergantian keluar masuk pada kedua lubang Tante Joyce.

“Danddy.. Dandyy.. Tantee.. Mau.. kelluuaar..” rintihnya hebat.
“Okkhh.. Nikmat.. Jangan.. Jangan.. Dilepas.. Sss..”
“Dandyy.. Danddy.. Daanddy.. Aaakhh” teriaknya.

Kedua tangan Tante Joyce mencengkeram pinggir meja makan, sedangkan bibirnya tidak berhenti mendesah dan merintih. Sesekali bibir bawahnya digigit, sehingga pemandangan tersebut benar-benar membuat birahiku bergolak. Kadua kaki yang jenjang, ditutup rapat seakan-akan tidak mau melepaskan penisku yang masih terbenam dalam vaginanya.

“Ohh.. GOD.. Kamu hebat banget..” puji Tante Joyce.
“Ccplok.. Cplok.. Crek.. Crek..” suara gerakan batang penisku yang masih bergerak maju mundur membuat kedua kakinya mengejang hebat.

Aku membiarkan Tante Joyce menikmati orgasmenya yang kedua, dan disaat wanita itu masih menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasmenya dia tidak menyadari jika ibu jariku masih terbenam dalam lubang analnya.

Aku segera mencabut batang penisku dari lubang kemaluan Tante Joyce, dan setelah aku merasa lubang anal Tante Joyce sudah terbuka. Aku segera mengarahkan kepala penisku ke lubang anal Tante Joyce.

“Aoowww.. Dandyy.. Apa yang kamu lakukan..?” tanya nya sambil menoleh ke belakang.
“Tenang Tante..” jawabku singkat.
“Sreett..” kepala penisku mulai menerobos lubang analnya.
“Aoowww.. Sakiit.. Dandyy” rintihnya sambbil memegang pantatnya sendiri.
“Relaks Tante.. Bentaran juga asyik ok..” kataku menghibur.
“Ihh.. Kkamu banddell.. Aaakhh” rintihnya kembali.

Dengan perlahan dan cm demi cm aku mulai memasukkan seluruh batang penisku di dalam lubang analnya.

“Ampunn.. Danddyy.. Ssaakkiitt..” rintihnya.

Begitu aku merasakan seluruh batang penisku terbenam dalam lubang analnya, aku berusaha diam sejenak untuk memberikan kesempatan lubang anal Tante Joyce mengenal penisku.

“Dannddyy.. Jangan.. Diem.. Aja dongg..” pinta Tante Joyce.

Segera dengan perlahan aku mulai menggerakkan keluar masuk penisku.

“Akkhh.. Terruss.. Danddyy” pinta Tante Joyce.

Tante Joyce mulai merasakan kenikmatan penisku yang mulai mengocok lubang analnya, sehingga rintihan kesakitan berubah menjadi rintihan kenikmatan. Aku semakin berani berimprovisasi di lubang anal Tante Joyce, seperti halnya aku mengoyak lubang vaginanya.

“Okhh.. Kkamuu.. Hebbatt.. Saayaang.. Jangan berhenti..” rintihnya.

Tanpa aku sadari kapan Tante Joyce memasukkan jarinya ke dalam lubang vaginanya, wanita setengah baya tersebut berusaha mengejar orgasmenya yang ketiga. Aku merasakan kerjaku tidak banyak karena Tante Joyce mambantu untuk mengocok vaginanya, sehingga aku berkonsentrasi penuh menikmati lubang anal Tante Joyce.

“Tanttee.. Danddyy.. Mau.. Keluar..” rintihku.
“Iyaa.. Sayangg.. Kita keluar.. Sama-sama.. Ookkh” rintih Tante Joyce.

Gerakankan aku semakin tidak terkontrol dalam lubang anal Tante Joyce dan jari wanita tersebut juga sedang bekerja meraih orgasme yang berikutnya. Aku merasakan ada sesuatu yang akan menyembur dari penisku, gesekan dinding lubang anal Tante Joyce membuat kenikmatan yang luar biasa.

“Oookkhh.. Tantte.. Daandy keluar.. Dimannaa..?” tanyak umerintih
“Didalam aja.. Sayangg..” pintanya.
“Tantee.. Aku.. Nggak taahaann..” rintihku.
“Iya.. iyaa.. Tante juga.. Danndy.. Aaakhh”
“Okhh..” rintihan panjang kami berdua mengakhiri permainan sex di dapur rumah Tante Joyce.
“Crut.. Crut.. Crut.. Crut..” bebrapa semburan spermaku dalam lubang anal Tante Joyce dan sebaliknya lubang vagina Tante Joyce mengeluarkan banyak cairan yang membasahi kedua pahanya. Beberapa tetes spermaku jatuh ke lantai keramik Tante Joyce.

Sesaat kemudian Tante Joyce membalikkan tubuhnya dan berkata..

“Kamu memang jago banget bercinta Dandy. Belum pernah aku merasakan multi orgasme yang sedemikian hebatnya,” katanya memujiku.
“Ah, Tante bisa aja..” kata merendah.
“Kapan-kapan kamu mau kan mengulanginya lagi?” tanyanya.
“Boleh Tante tapi buruan deh lepasin pelukan Tante nanti Ambwr keburu keluar,” kataku was-was.

Setelah berkata demikian Tante Joyce mengecup bibirku dan melepaskan pelukannya. Aku bergegas membenahi bajuku dan kembali menuju ruang tamu. Tante Joyce pun masuk ke dalam membenahi tubuhnya yang berkeringat setelah bercinta dengan aku di dapur.

15 menit kemudian Ambar keluar dari dalam kamarnya.

“Hey Dandy.. Sorry lama ya nunggunya,” katanya ceria.
“Nggak apa-apa kok Ambar..” kataku gugup.

Sesaat kemudian Tante Joyce keluar dan bertanya kabarku, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa antara aku dengan dia.

“Hey Dandy.. Gimana khabarmu?” tanyanya.
“Bbaik Tante..” jawabku gugup
“Itu si Ambar memang lama banget kalau dandan,” jelasnya.
“Duh Mbak ini.. Sudah deh aku berangkat,” kata Ambar singkat.

Aku segera bangkit dari dudukku dan bergegas menuju pintu keluar, Ambar keluar lebih dulu menuju pagar sedangkan aku dibelakangnya. Aku sedikit kaget ketika tangan Tante Joyce meremas pantatku, aku bergegas menuju pagar karena takut si Ambar melihat kejahilan kakaknya.

Mobil starletku segera meluncur meninggalkan rumah Ambar dengan perasaan yang luar biasa puasnya. Pagi-pagi mendapat ‘jatah’ yang tidak terduga, sehingga aku ingat pesan Bang napi yang sering aku tonton di RCTI” INGAT KEMAKSIATAN TERJADI KARENA ADANYA KESEMPATAN.. WAPADALAH.. WASPADALAH”

1 komentar: